Ticker

6/recent/ticker-posts

Muktamar NU : Sang Penjaga Karomah NU

Aswajabuleleng | Pelaksanaan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama akan digelar dalam beberapa hari lagi. Lampung menjadi wilayah tersibuk untuk mempersiapkan segala macam keperluan teknis maupun nonteknis, ada yang sibuk mencari hotel pengganti karena kabarnya sudah penuh (full booked) oleh instansi tertentu dan ada juga yang sibuk mengatur peta lalu lintas acara.


Di sisi lain, banyak juga kalangan Nahdliyin di Lampung yang mulai sibuk mempersiapkan kediaman, pesantren atau lembaganya untuk menerima keluarga besar NU dari penjuru Nusantara, sebab kita tahu muktamar NU adalah ajang silaturahim semua warga Nahdliyin, baik sebagai pengurus NU atau sekadar romli (rombongan liar) NU yang jumlahnya kadang jauh lebih banyak dari peserta resmi Muktamar.


Jika peserta resmi Muktamar NU sekitar 2.500, maka minimal ada 25.000 manusia yang bakal memadati area Muktamar, dari Banser, pengikut kiai, Banom NU, pedagang asongan, tukang parkir bahkan sampai para intel yang menyamar sebagai ini dan itu. Semua kesibukan itu tidak ada tujuan lain, selain untuk menyuksekan Muktamar NU yang penuh wibawa dan karomah tersebut.


Panitia menyadari betul ukuran keberhasilan Muktamar bukan sekadar pada proses reorganisasi di tubuh PBNU, melainkan lebih jauh adalah terlayaninya semua keperluan NU, terjaminnya keselamatan para kiai dan muktamirin. Apalagi warga Nahdliyin Lampung memiliki adat memperajakan tamu, maka tidak mungkin mempertaruhkan martabatnya sebagai panitia pelaksana dengan memihak salah satu calon ketua umum PBNU.


Sedangkan di tempat lain, terlebih di luar wilayah Lampung, muktamirin resmi dan romli mulai sibuk atur jadwal, cek penerbangan, membuka peta arah Muktamar, telepon ke sana kemari cari agen wisata, tur dan travel, atau sekadar tumpangan menginap ketika tiba di Lampung kelak. Ada yang mulai bongkar celengan dan juga menengok saldo tabungan apakah kiranya cukup untuk turut serta mengikuti Muktamar atau sekadar hadir menjadi penggembira acara. Karena itulah semua orang beranggapan bahwa Muktamar NU ibarat hajatan yang penuh dengan karomah.


Meski demikian, sayang sekali, ketika berdiskusi tentang siapa calon ketua umum PBNU yang digadang-gadang akan menakhodai 90 juta umat ini, jawabannya masih itu-itu saja. Bahkan hanya terkesan pertarungan menang dan kalah dari dua kubu yang memiliki risiko tinggi terhadap terbelahnya NU. Kemudian juga sudah muncul istilah NPWP (nomor piro wani piro) atau sinten sinten? Pinten pinten? yang membuat miris serta berpotensi mencederai karomah Muktamar NU. 


Maka dari itu, demi menjaga karomah NU dan keutuhan NU sangat diperlukan langkah alternatif, isu alternatif, dan calon alternatif pada Muktamar NU ke depan.


*Langkah Alternatif*


Pelaksanaan Muktamar NU harus dimaknai sebagai langkah suci PBNU sebagai poros organisasi dalam melakukan regenerasi kepemimpinan dengan penuh idealisme dan integritas. PBNU harus memberikan teladan bagi PCNU dan PWNU sebagai organisasi yang mandiri dan berwibawa agar pengurus NU ke depan bukan hanya berebut kedudukan sebagai pengurus PBNU dan mengambil keuntungan pribadi, tetapi harus memberdayakan yang terampil serta tulus mengurusi NU secara keseluruhan. 


Demi menghindari politik uang, misalnya, seluruh biaya akomodasi dan transportasi (jika perlu uang saku sekaligus) ditanggung oleh PBNU. Selain itu transparansi data peserta juga perlu disampaikan agar terhindar dari para penyusup atau romli yang mendadak ambil alih forum. 


*Isu Alternatif*


Selain tradisi Bahtsul Masail yang membahas isu-isu keagamaan, sosial masyarakat dan hukum, Muktamar NU kali ini tampaknya menjadi momentum paling tepat untuk mengampanyekan isu tentang kemanusiaan, secara khusus terkait kemerdekaan Palestina.

 

PBNU harus tetap konsisten bahkan lebih masif lagi menyuarakan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Yahudi Israel. Selain itu kita juga perlu mengoreksi kedekatan beberapa pimpinan PBNU terhadap kelompok Yahudi yang berpotensi mencederai semangat perjuangan kemerdekaan Palestina.


*Calon Alternatif*


Nah, pada titik ini penulis mulai merasakan betapa pentingnya kita sebagai warga NU benar-benar serius urun rembuk mencari sosok alternatif yang tepat sebagai ketua umum PBNU. Setidaknya ada 3 indikator kepemimpinan yang sangat penting dimiliki oleh calon alternatif tersebut.


Pertama, harus seorang organisatoris ulung, sebab fungsi ketua Tanfidziah lebih kepada menjalankan perintah atau keputusan Syuriah. Dia harus bisa menggerakkan organisasi dari sisi ideologi maupun pemberdayaan kader. Dalam NU kita dapat merasakan ada keberhasilan pada pola pengkaderan PKPNU kita patut mengapresiasi langkah tersebut atau MKNU.


Kedua, seseorang yang cenderung bisa diterima oleh kedua belah pihak bahkan semua kalangan, memiliki prinsip egaliter dan matang dalam bertindak, sehingga bisa tetap menyatukan NU dan menghindarkan NU dari perpecahan.


Ketiga, memiliki jaringan internasional yang baik, sehingga dapat menempatkan NU sebagai organisasi kelas dunia yang disegani.


Calon alternatif di kalangan NU begitu banyak, tetapi jika disebut nama pasti akan mengundang banyak perhatian pihak-pihak yang tidak ingin NU menjadi organisasi yang mandiri, berdaulat serta bermartabat dalam mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur. Pihak itu merupakan kelompok yang selama ini memusuhi negara Pancasila Indonesia. 


Untuk itu sudah saatnya pikiran kita terbuka, bukan yang itu itu saja.


Penulis : Adil Zuhab, M.Ag


Posting Komentar

0 Komentar